
Kolaborasi Harfia dan pemerintah dorong modernisasi pertanian dengan alsintan (alat mesin pertanian) buatan anak bangsa, menuju kedaulatan pangan Indonesia.
Panen Raya Padi Serentak di 14 provinsi dan 157 kabupaten/kota menjadi tonggak penting dalam perjalanan ketahanan pangan nasional. Bertempat di Desa Randegan Wetan, Kecamatan Jati Tujuh, Kabupaten Majalengka, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto secara langsung memanen padi menggunakan Combine Harvester produksi Harfia, alat mesin pertanian buatan anak bangsa.
Momen ini bukan sekadar seremoni. Kehadiran Harfia sebagai penyedia alsintan (alat dan mesin pertanian) lokal menegaskan komitmen pemerintah untuk mengandalkan mesin pertanian Indonesia dalam mewujudkan kedaulatan pangan nasional.
Harfia telah menjelma menjadi salah satu simbol kebangkitan industri alsintan dalam negeri. Dengan produk seperti Combine Harvester dan traktor yang disesuaikan dengan kondisi sawah di Indonesia, Harfia menjawab kebutuhan petani akan teknologi yang mudah dioperasikan, efisien, dan tangguh.
Kehadiran Harfia dalam Panen Raya ini bukanlah yang pertama. Sebelumnya, Presiden Prabowo juga menjajal produk Harfia di Merauke, Papua. Konsistensi ini menunjukkan bahwa Harfia telah mendapatkan kepercayaan pemerintah sebagai mitra strategis dalam pembangunan pertanian nasional.
“Presiden sudah dua kali menggunakan produk Harfia. Ini bukan sekadar dukungan simbolik, tetapi langkah nyata dalam memperkuat fondasi pertanian nasional lewat teknologi buatan Indonesia,” ujar Ardi, CEO Harfia Construction Machinery.
Dalam sambutannya, Presiden Prabowo mengungkapkan optimisme tinggi terhadap masa depan pertanian Indonesia. Dengan benih unggul dan teknologi pertanian modern, hasil panen bisa meningkat signifikan.
“Dulu kita panen 7 ton per hektar. Sekarang bisa sampai 10 ton. Ini Revolusi Hijau Kedua bagi Indonesia,” kata Prabowo di tengah hamparan sawah Majalengka.
Pernyataan ini mempertegas peran penting mekanisasi pertanian dalam meningkatkan produktivitas. Dalam konteks ini, penggunaan alsintan buatan Indonesia seperti Harfia menjadi komponen vital yang tidak bisa diabaikan.
Panen Raya 2025 menjadi panggung nyata sinergi tiga pilar utama pembangunan pertanian: pemerintah sebagai pembuat kebijakan, industri lokal sebagai penyedia teknologi, dan petani sebagai ujung tombak di lapangan.
Dengan pendekatan kolaboratif ini, Indonesia tidak hanya mengejar swasembada pangan, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri nasional untuk berdiri di atas kaki sendiri — termasuk dalam urusan teknologi pertanian.
Melalui keterlibatan aktif dalam berbagai program pemerintah, Harfia menegaskan komitmennya untuk terus mendukung transformasi pertanian Indonesia. Sebagai brand alsintan nasional, Harfia tidak hanya memproduksi alat, tetapi juga membawa semangat kemandirian bangsa.
Nasionalisme kini bisa ditunjukkan dengan cara yang lebih nyata — mendukung produk dalam negeri, mempercayai kemampuan anak bangsa, dan membangun ketahanan pangan secara berkelanjutan. Kombinasi semangat juang petani dan keberadaan teknologi seperti Harfia menunjukkan bahwa Indonesia mampu berdikari di sektor pangan.
Di tengah tantangan global, dari perubahan iklim hingga gejolak geopolitik, Indonesia menunjukkan bahwa kemandirian pangan bisa dimulai dari desa-desa seperti Randegan Wetan, dengan mesin hasil karya anak bangsa sebagai tumpuan.
Harfia bukan sekadar brand. Ia adalah bagian dari gerakan besar menuju pertanian yang modern, mandiri, dan nasionalis. Dengan dukungan penuh dari pemerintah, Harfia melangkah pasti sebagai mitra strategis dalam membangun masa depan pertanian Indonesia yang cerah.